Cerita Lama dari Proses Adaptasi Pembelajaran Berjarak

Madani-News.com – Pada Maret 2020 lalu, telah diberlakukan masa darurat terhadap penyebaran virus baru yang dikenal sebagai Covid-19. Tahun 2021, telah kita injak sebagai lembaran yang baru namun kenangan tahun 2020 tidak bisa usai begitu saja. Banyak sekali dampak dan perubahan yang terjadi atas penerapan sistem baru dengan menggunakan konsep jarak jauh. Salah satunya berdampak besar pada sistem pendidikan yang turut mengalami perubahan di dalamnya. Pembelajaran jarak jauh diberlakukan oleh pemerintah sebagai upaya tanggap penyebaran Covid-19 pada Maret 2020.

Hari ini telah satu tahun pembelajaran meniti dalam lingkaran jarak jauh. Guru dan tenaga pengajar lainnya telah berusaha memberikan metode pembelajaran yang inovatif dengan berbagai media yang bisa digunakan. Begitupun dengan siswa – mahasiswa yang berusaha beradaptasi dengan keadaaan sistem baru yang diberlakukan. Hal yang menjadi keresahan paling besar dalam metode jarak jauh merupakan keterbatasan atas sarana, media serta kemampuan yang dimiliki setiap orang.

Ada banyak sekali kendala yang dialami saat pembelajaran jarak jauh di terapkan. Mulai dari tidak nyamannya komunikasi tidak langsung akibat terkendala jaringan, hingga sarana yang tidak mendukung sehingga pembelajaran dilakukan alakadarnya. Bahkan di beberapa daerah yang kesulitan menjangkau jaringan internet, terpaksa harus belajar di tempat – tempat kurang nyaman seperti tepi jurang, di jalanan, hingga di hutan.[1]

Saat ini pembelajaran jarak jauh menjadi sebuah kebiasaan baru bagi siswa – mahasiswa. Melalui wawancara ringan bersama Aliya (05/04) yang tengah duduk dibangku Sekolah Dasar kelas 4 mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh memberikan kebiasaan yang buruk, seperti melalaikan tugas, sering lupa jadwal kelas, dan bahkan terlalu asik dengan hobi yang dimiliki. Berbeda dengan wawancara narasumber lainnya, Sindi (02/04) yang saat ini sedang mempersiapakan diri untuk masuk perguruan tinggi mengungkapkan bahwa pembelajaran jarak jauh sedikit banyak membuatnya ragu. Seperti yang sedang terjadi, bahwa pembelajaran jarak jauh ini tidak dapat dilakukan secara maksimal seperti pembelajaran tatap muka.

Selain daripada itu, orang tua siswa – mahasiswa mengungkapkan bahwa mereka merasa tidak nyaman melihat anak – anaknya yang selalu duduk di depan ponsel atau komputer mulai dari pagi hingga sore, bahkan hingga malam. Bobot tugas yang biasanya lebih ringan ketika pembelajaran tatap muka, kini bertambah kali lipat dengan penggantian pembelajaran jarak jauh yang lebih banyak dibebankan dengan penugasan. [3][4]

Namun berbeda dengan yang telah berlalu, pada masa kini siswa – mahasiswa dan para tenaga pengajar telah mulai terbiasa dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Masa adaptasi yang awalnya sulit, telah berhasil dilalui oleh masing – masing dirinya. Banyak sekali media pembelajaran yang dikembangkan dan diinovasikan untuk mendukung pembelajaran. Seperti misalnya pembuatan platform pembelajaran baru sebagai penunjang pembelajaran, atau penggunaan aplikasi – aplikasi yang mendukung pembelajaran jarak jauh seperti zomm, google meeting, google classroom, atau via whatsapp group dan aplikasi lainnya yang canggih. Dengan inovasi – inovasi baru, para tenaga pengajar mampu memberikan pembelajaran yang lebih maksimal meskipun masih dalam pemberlakuan pembelajaran jarak jauh. Begitupun dengan para siswa – mahasiswa yang mulai mempersiapkan dirinya sebelum menyambut pembelajaran di hari berikutnya lebih semangat dengan tawaran – tawaran media pembelajaran yang menyegarkan.[2]

Meski pembelajaran jarak jauh mulai dapat diterima dengan baik dan setiap individu mampu mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan baru, namun hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari evaluasi pembelajaran. Baik ditinjau dari proses ketika pembelajaran, maupun progress yang dicapai setelah beberapa lama belajar dengan metode jarak jauh. Karena pendidikan yang baik dapat dicapai ketika individu menikmati proses dan mendapatkan progress.

Penulis : Fauziyah Rhaudhatul Jannah (Universitas Pendidikan Indonesia dengan program studi Sistem Telekomunikasi (SISTEL). Saya juga merupakan Pengurus Aktif LEPPIM UPI Purwakarta 2021).